Aloha Sahabat Camping.. gue balik
lagi, nih. Kemarin gue udah bernostalgia dengan petualangan dungu gue di
Semeru. Kali ini gue bakal cerita tentang cerita camping gue pulau kelahiran
gue, Madura. Horeee.. yang orang Madura Merapat. Kita pelukan ala teletubis,
yok.
Di
tengah perantawan kayak gini, kadang kala gue merasa kangen sama tanah
kelahiran gue, Madura Island. Tapi apalah daya kaki tak sampai. Gue kangen
semua yang ada di Madura, mulai dari bukit-bukitnya yang sering kali gue sebut
gunung, pantai-pantainya, gua-gua kapurnya, sawah tembakau, sawah garam, tambak
ikan dan ikan-ikannya yang kita gak usah beli mahal tapi udah puas makan ikan,
dan nelayan-nelayannya, sungainya, makanannya yang asin, dan semuanya yang
membuat pulau ini sangat dirindukan. *Tumben gue ngomongnya bener.
Mendengar
kata Madura, apa yang petama kali terlintas di benak kalian. Panas? Gersang?
Orangnya kasar? Kerapan sapi? Banyak ikan? Pulau garam? Banyak pembacok? Pulau
terpencil? Atau lu jadi inget Pacar? Mantan? Mertua? Calon mertua? atau apapun
lah. Gue yakin kalian punya deskripsi
sendiri jika mendengar kata ‘Madura’.
Tapi
yang gue tau, kebanyak orang menganggap kalo Madura itu penuh dengan hal yang
gak positif, bukan hal negatif juga sih, tapi ya gak positif aja. Gue maklumi
aja sih. Tiap orang punya pendapatnya masing-masing.
Di
luar semua anggapan itu, percaya atau enggak, Madura itu negara yang kaya, loh.
Kalau dilihat dari sudut pandang pariwisatanya sih, Madura juga punya banyak
tempat yang sebenarnya layak untuk dikunjungi. Terutama wisata baharinya.
Beeeeuh, wajib coba ke sini lu. Ke Madura.
Kalo
lu ke Madura, nanti lu bakal di sambut dengan tari-tarian hop-lahop dari
masyarakat setempat yang menggunakan baju adat setempat sambil pegang celurit
terus dilanjut dengan acara bacok-bacokan, bacok-bacokan daging sapi, ya.
Jangan salah paham. Abis itu lu bakalan dijemput dengan kapal pesiar. Tapi itu
masih wacana, sih. Mungkin akan terlaksana kalo Madura udah mengalami perluasan
wilayah.
Salah
satu tempat yang recomended banget buat lu berwisata bahari ala bule-bule darat
itu di Kabupaten Sumenep. Di Sumenep, lu tinggal nunjuk aja pulau mana yang
pengen lu datengin. Di sana banyak banget pulau, men. Bahkan masih banyak pulau
perawannya di sini. Bnyangin aja kalo lu berhasil ke pulau itu, berarti lu
adalah orang pertama yang menjandakan pulau itu. Bayangin. Mantap gak tuh.
Doooh...
Selain
karena terkenal dengan keindahannya, pulau di sana juga ada yang terkenal
karena jumlah oksigennya termasuk ke dalam kategori pulau dengan oksigen
tertinggi menurut LAPAN, yaitu Pulau Gili Iyang. Bentar, lu pada tau LAPAN gak?
Masak gak tau. Ya gue juga gak tau lah. Makanya cari di google.
Nih,
menurut hasil yang gue dapat di google.
“Hasil pengukuran
di lapangan oleh LAPAN (2006) dan analisisnya menunjukkan bahwa kadar oksigen
di Gili Iyang dalam kondisi normal yaitu sebesar 20,9 %. Segarnya udara di Gili
Iyang bukan karena kadar oksigen yang tinggi, tetapi karena udaranya bersih
dari zat pencemar.”
Itu berdasarkan penelitian tim LAPAN
atau yang tidak biasa kita sebut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
yang diluncurkan pada tahun 2006. Gue telat banget yak ngasih taunya. Udah
berapa tahun berarti? Satu.. dua.. udah sebelas tahun berarti ya. Tapi tenang
aja, di sana itu masih kejaga banget kelestariannya. Kemarin aja, gue dan
temen-temen masih jadi orang pertama yang mengeksplor pulau Gili Iyang itu.
Pulau Gili Iyng ini hanya terdiri dari dua desa kecil dan wilayahnya emang gak gak
terlalu luas, jadi lu bisa mengelilingi pulau itu dengan jalan kaki atau
perahu. Tapi kalo lu tawafnya pake kaki, lu siapi fisik sama mental aja, ya.
Saran aja.
Tempat yang mengandung banyak
oksigen di Gili Iyang terdapat di salah satu desa di sana dan gue lupa namanya.
Yang pasti tempatnya biasa aja sih sebenarnya. Rasanya juga biasa aja. Tapi
katanya, kalo lu pengen merasakan perbedaan tempat dengan kadar oksigen
tertinggi ini lu harus tidur di situ di daerah situ dan rasakan kedahsyatannya
pas lu bangun tidur. Lu akan berubah menjadi manusia ubur-ubur yang mampu
bernafas dengan oksigen yang ada di udara bebas. Ya enggaklah. Kata masyarakat
setempat, kalo lu pagi-pagi ada di situ, lu bakal merasakan nikmat kesegaran
dari tiiiiiiit (iklan teh). Ya intinnya lu harus berlama-lama aja di situ.
Tapi emang sih, yang gue rasakan di
sana itu lebih sejuk dari tempat lain. Gak tau juga sih. kata temen-temen gue
sih biasa aja. apa itu sugesti gue, gue gak tau. Tapi selain kadar oksigen di
tempat itu tinggi, di sana juga didukung dengan banyaknya pohon-pohon rindang
yang tumbuh di sana. Jadi, ya enaklah buat ngadem. Secara kan Madura emang
panas, sih. Jujur aja, nih.
Oke lanjut. Di Gili Iyang lu gak
cuma bisa eksplor tempat yang mengandung oksigen tertingginya. Di sana juga
banyak tempat lain yang bakal memanjakan kalian yang haus akan kasih sayang. Ya
enggaklah. Maksud gue, kalian yang haus akan petualangn.
Di sini ada banyak gua. Tapi
semuanya adalah gue kapur (karst). Ada yang paling populer di pulau ini, yaitu
Gua Gong. Jadi kenapa namanya Gua Gong? Ya bisa lu tebak sendiri lah. Yup,
karena katanya di dalam gua itu terdapat batu yang kalo di pukul bakalan
berbunyi kayak bunyi gong. Gue gak tau pasti, sih. Karena pas gue mau ke sini,
gue malah nyasar ke mana-mana. Sial.
Ini kurang lebih gambar yang bisa gue tunjukkin pas di Gua Gong.
Selain Gua
Gong, ada juga gua lainnya yang pecinta gua pasti suka, nih. Di dalem
banyak stalagtit dan stalagmit yang keren, guys. Untuk ukuran gue karts yang
gak terlalu gede, ini termasuk keren, Gan. Sumpah.
Nih stalagtit dan stalagmitnya di sana. Keren gak. Keren lah. Iya-in aja dah.
Selain
gua-gua tersebut, ada juga yang menjadi daya tarik di pulau ini, yaitu batu
canggah. Penduduk setempat menyebutnya ‘Băto Cangghă” atau kalo kita artikan ke
dalam bahasa Indonesia artinya menjadi Batu Pilar. Kenapa disebutnya begitu?
Yup, karena takdir. Cerdas.
Batu Canggah atau Batu Pilar.
Nih, bentuknya. Lu bisa deskripsiin sendirilah kenapa disebutnya
batu pilar. Yang menarik dari batu ini, adalah letaknya yang langsung menghadap
laut lepas. Kebetulan di bawahnya itu adalah jurang. Jadi gue saranin buat
kalian yang baru diputusin mantan pacar, yang lagi banyak utang dan gak sanggup
bayar, atau yang kebetulan gak sanggup liat mantan balikan sama mantannya yang
dulu, gue mohon kalian jangan ke sini. BAHAYA. Ini emang tempat yang bagus buat
kalian datengin, tapi tidak untuk membuang keputusasaan kalian. Oke?
Batu Pilar ini terletk di bagian
mana dari pulau ini gue gk tau. Tapi yang pasti, saat gue ke sana gue sempet
nyasar sampe beberapa kali. Dan waktu itu juga gue lagi bwa rombongan
bapak-bapak yang lagi sepedan keliling pulau. Niatnya gue mau nganterin mereka
ke sini, tapi berhubung gue juga lupa tempatnya, al hasil mereka malah
ngomel-ngomel.
“Neng kene, neng kono. Neng kono,
neng kene!” Begitulah.
Akhirnya dari situ gue menyadari
kalo gue belum bisa jadi tour gaied.
Akses buat ka Batu Pilar ini emang
masih sangat terbatas. Selain hanya bisa dilalui dengan jalan kaki, jalan
menuju ke sini juga masih harus melati sawah, lembah, bukit, lautan, samudera,
dan.. dan..
Gak ding.
Aksesnya emang cukup sulit. Selain
harus melewati sawah-sawah dari penduduk setempat, jalan untuk menuju Batu Canggah
ini masih sangat terjal berbatu. Ps gue sama temen-temen ke sana, kami bahkan
sampai menggunakan tali sebagai pagangan. Jadi, kalian harus hati-hati.
Pokoknya, savety first.
Banyak
hal yang menjadi daya tarik pulau ini selain destinsi-destinasi yang udah gue
sebutin tadi. Terutama budaya lokalnya. Tau gak, sih? Ternyata listrik di sana
itu sangat sangat terbatas. Bahkan air bersih dan tawarpun juga masih terbata.
Pas gue dan temen-temen gue jalan-jalan keliling desa, gue lihat banyak
kincir-kincir angin yang berdiri di sana. jadi, dapat gue simpulkan bahwa
masyarakat setempat menggantungkan listrik mereka dari tenaga angin. Tapi gue liat juga banyak yang gak berfungsi,
sih. Tapi gak tau sih kalo sekarang gimana keadaan mereka.
Untuk masalah air di sana, ternyata
masyarakat harus membeli dan mendatangkan air tawar yang bersih untuk diminum
dari pulau sebelah dan mengangkutnya dengan perahu nelayan. Sedangkan untuk air
kebutuhan mandi, mereka masih menggunakan air sumur yang payau. Gue pernah
nyoba mandi di salah satu rumah warga, dan ternyata airnya asin. Abis mandi
bukannya gue merasa seger, malah gue merasa tubuh gue jadi makin lengket. Tapi
masyarakat di sana mungkin udah biasa dengan hal tersebut, jadi hal itu gak
jadi masalah untuk mereka.
Tapi di luar itu semua, masyarakat Pulau
Gili Iyang baik-baik kok. Pas gue numpang mandi di sana, gue malah di kasih
kerupuk khas di sana. Pas gue sama temen-temen kepanasan dan kehausan, mereka
malah membawakan kami kelapa muda yang baru dipetik. Pas kami lapar dan pengen
makan ikan, kami di kasih ikan dengan harga murah. Mantap, kan. Sebenernya
orang Madura baik kok. Jadi jangan takut-takut ke Madura. Nanti biar gue yang
nganterin. Biar gue bawa nyasar lagi. Haha..
Malam harinya, mereka menyuguhi kami dengan musik khas daerahnya. Keren.
Oiya, masyarakat di sana selain
sebagian besar menjadi seorang nelayan, mereka juga pandai membuat kerajinan
tangan. Sepanjang jalan gue jalan-jalan di sini, gue melihat di beberapa rumah
penduduk mereka lagi sibuk merangkai-rangkai sesuatu. Dan setelah dilihat lebih
dekta, ternyata mereka membuat gelang-gelang yang terbuat dari rangkaian tali
yang disimpul-simpul. Gelang itu ternyata nantinya akan di jual sebagai cendera
mata. Keren.
Gimana?
Pokoknya pulau ini recomended bangetlah buat kalian yang udah bosen
sama gunung, sungai, sawah, kantor, kebun, sekolah, dan semua kebosanan kalian.
Kearifan lokal di sini juga masih terjaga. Dateng aja ke Madura dan hirup
oksigennya sebanyak-banyaknya.
x


Tidak ada komentar:
Posting Komentar